Dari Bisnis Sound System Beralih Bisnis Sayur

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mempengaruhi beberapa lini bisnis. Pada dunia hiburan, pertunjukan musik dilarang karena menimbulkan kerumunan. Beberapa bisnis terkait juga terpaksa berhenti beroperasi.

Hal itu pun dirasakan Bayu Fajri Hadyan, CEO Bayusvara, sebuah perusahaan penyewaan sound system untuk konser. PSBB membuat bisnisnya tak bisa beroperasi. Alhasil, kini usaha penyewaan sound system-nya tak bisa menghasilkan uang sama sekali. Padahal dari usahanya ini dia bisa meraup keuntungan hingga Rp 200 juta per bulan.

Bayu tak ingin menyerah. Memanfaatkan kondisi PSBB yang mendorong banyak orang berdiam diri di rumah, dia banting setir.

Bayu membuka Segarsvara, jasa pemesanan bahan makanan online atau bisa disebut tukang sayur online. Usaha ini dimulainya sejak bulan April, setelah PSBB diberlakukan di Jakarta.

“Usaha saya ini terbentuk setelah unit usaha jasa sewa sound system dan lighting berhenti akibat pandemi. Saat di rental sound bisa berkisar Rp 150-200 juta sebulan, cuma sekarang nggak menghasilkan,” kata Bayu.

Melalui jasanya ini dia menerima pesanan sayuran hingga sembako, mengemasnya, dan langsung mengantarkannya ke rumah pelanggan.

Uniknya, menurut Bayu, usaha barunya ini tak memakan modal terlalu banyak. Dia mengatakan, modal yang dibutuhkan hanya untuk urusan branding Segarsvara.

Mulai dari cetak stiker hingga seragam karyawan. Totalnya dia mengaku mengeluarkan uang tak lebih dari Rp 1 juta.

“Hampir 0 ya kayaknya. Saya keluarin uang nggak sampai Rp 1 juta pas awal. Paling hanya biaya untuk branding aja cetak stiker, seragam karyawan, beli barang-barang buat kemasan,” kata Bayu.

Untuk memulai bisnis tukang sayur online dia hanya membutuhkan karyawan untuk menerima pesanan, membeli pesanan, mengemas, dan mengantar barang. Sementara itu, kendaraan untuk mengantarkan barang menggunakan aset lama dari Bayusvara.

“Kami cuma memanfaatkan seluruh infrastruktur yang ada dari rental sound system, termasuk mempekerjakan karyawannya,” kata Bayu.

Usahanya pun cukup menghasilkan. Dia mengaku sebulannya bisa mendapatkan Rp 20-30 juta. Bahkan, saat bulan puasa pendapatannya menyentuh Rp 70 juta.

Meski tak sebesar pendapatannya menyewakan sound system, setidaknya dia mengaku pendapatannya kini cukup untuk memenuhi semua kebutuhan pribadi dan perusahaannya.

“Omzet tentu saja jauh di bawah dari bidang event yang sebelumnya. Tapi lumayan lah untuk bisa meng-cover biaya-biaya beban bulanan. Segarsvara itu berkisar di Rp 20-30 juta per bulan sekarang,” ujar Bayu.

“Pernah mencapai puncaknya saat bulan Ramadhan, tembus sekitar Rp 60-70 juta,” pungkasnya.

Bayu mengaku sejauh ini pihaknya paling banyak mendapatkan 25 pesanan per hari. Dia mengatakan pihaknya menerima pesanan meliputi daerah Tangerang Selatan, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Depok.

Bagi yang berminat memesan jasa Segasvara bisa langsung menghubungi nomor WhatsApp yang tertera di Instagram @segarsvara. Nantinya Segarsvara mengirimkan daftar harga dan barang. Pesanan minimal Rp 100 ribu,dengan ongkos kirim Rp 20 ribu.

sumber : detik